FACE OF OUR LIBRARY


Showing posts with label Akuntansi. Show all posts
Showing posts with label Akuntansi. Show all posts

Sunday, April 17, 2011

ANALISIS PENGARUH LABA DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DEVIDEN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG GO PUBLIC DI INDONESIA


IRAWATI , RR. DESI (2010)

ABSTRAKSI
Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk menguji secara empiris
pengaruh laba perusahaan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan go public
di Indonesia; 2) Untuk menguji secara empiris pengaruh arus kas terhadap
kebijakan deviden pada perusahaan go public di Indonesia.
Penelitian ini merupakan studi empiris yang dilakukan pada perusahaanperusahaan
yang go public di, dan didesain untuk melihat pengaruh laba dan arus
kas perusahaan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan go public di
Indonesia. Dimensi waktu yang digunakan adalah cross sectional. Populasi yang
menjadi objek studi ini adalah seluruh perusahaan go public yang terdaftar di BEI
dari tahun 2004 - 2008. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan publik
yang terdaftar di BEI sampai dengan 31 Desember 2008 sebanyak 50 perusahaan.
Adapun alat analisis yang digunakan adalah uji asumsi klasik (normalitas,
autokorelasi, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas) dan uji hipotesis (analisis
regresi, uji t, uji F, dan R2.
Berdasarkan hasil penelitian atas penggunaan informasi laba dan arus
kas operasi untuk memprediksi nilai deviden pada 50 perusahaan manufaktur
yang mempublikasikan laporan keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan
auditan tahun 2005 yang dipublikasikan pada tahun 2007, dapat disimpulkan
bahwa dari kedua variabel ternyata laba dan arus kas operasi berpengaruh
terhadap deviden. Simpulan ini diperkuat oleh beberapa temuan berikut: (1)
Berdasarkan hasil analisis regresi dan uji F dapat diketahui bahwa terdapat
pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel laba dan arus kas operasi
terhadap deviden, pada taraf signifikansi 5%; (2) Berdasarkan hasil uji-t,
diketahui bahwa secara parsial terdapat pengaruh antara laba terhadap deviden
dan arus kas operasi terhadap nilai deviden, pada taraf signifikansi 5%.

Kata kunci: Laba, Arus Kas, Deviden.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan pembangunan di Indonesia kian tahun semakin
berkembang. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya perusahaan-perusahaan
besar yang didirikan setiap tahunnya. Setiap perusahaan-perusahaan besar
memerlukan modal yang besar tentunya untuk membiayai seluruh kegiatan
operasionalnya. Perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin menyadari
bahwa untuk memperkuat stuktur modalnya diperlukan keseimbangan antara
modal jangka pendek dan modal jangka panjang. Komposisi permodalan yang
hanya menitikberatkan pada sumber pembiayaan jangka pendek akan
mempertinggi tingkat resiko usaha, terutama dalam situasi perekonomian yang
tidak menentu.
Modal yang digunakan biasanya dipenuhi dengan setoran modal
pemilik ditambah dengan pinjaman. Namun hal itu terkadang bahkan tidak
dapat terpenuhi seluruhnya. Oleh karena itu perusahaan memerlukan modal
yang didapatkan dengan cara mengeluarkan saham. Perusahaan memerlukan
saham kemudian menjual saham tersebut melalui pasar modal. Sebagai
alternatif pilihan kebutuhan pembiayaan usaha yang banyak menarik minat
para pelaku bisnis karena pasar modal memiliki daya saing tersendiri
dibandingkan jenis-jenis sumber pembiayaan usaha lainnya. Selain itu pasar
modal sebagai media yang tepat untuk menyalurkan dan menginvestasikan
dana yang berdampak produktif dan menguntungkan investor dalam
pengembangan operasional perusahaan, sehingga dapat lebih maju, besar dan
kuat yang pada akhirnya untuk jangka panjang dapat menguasai pasar.
Diperkirakan bahwa pasar modal yang efisien akan berakibat pada
reaksi yang cepat terhadap informasi yang relevan. Informasi baru tersebut
kemudian akan masuk ke dalam dan membentuk harga sekuritas. Dalam pasar
yang efisien, harga cepat mencerminkan informasi yang relevan, sedemikian
rupa sehingga tidak akan diperoleh keuntungan abnormal yang konsisten.
Tujuan investor menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah
untuk mekaksimalkan kekayaan yang akan diperoleh baik melalui deviden
yang dibagikan maupun melalui capital gain pada saat saham tersebut dijual.
Tingkat keuntungan yang diharapkan haruslah lebih besar daripada apabila
mereka menanamkan dananya pada obligasi pemerintah atau tingkat bunga
deposito.
Rencana deviden yang dibayarkan oleh perusahaan tergantung pada
kebijakan deviden masing-masing perusahaan. Kebijakan deviden ini sangat
penting artinya bagi manajer keuangan karena harus mempertimbangkan
perusahaan, pemegang saham, masyarakat maupun pemerintah. Oleh karen itu,
biasanya penentuan deviden diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) sebagai penentu keputusan tertinggi dalam perusahaan Perseroan
terbatas. Bambang Riyanto (1998: 126), menyatakan:
Politik deviden adalah bersangkutan dengan penentuan pembagian
pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan
kepada para pemegang saham sebagai deviden atau untuk digunakan
dalam perusahaan, yang berarti pendapatan tersebut harus ditahan dalam
perusahaan sebagai laba ditahan.
Untuk mengetahui apakah dana yang ditanamkan memberikan hasil
yang maksimal dan apakah manajer telah melakukan kewajibannya dengan
baik dalam arti telah memaksimumkan kekayaan pemilik modal, maka
investor membutuhkan informasi dari perusahaan. Informasi yang dibutuhkan
oleh investor adalah mengenai prestasi yang telah dicapai perusahaan dan
bagaimana prospek perusahaan di masa yang akan datang. Biasanya informasi
tersebut dalam bentuk laporan keuangan dan deviden.
Untuk menentukan apakah perusahaan mampu membayarkan
deviden akan tergantung juga pada posisi likuiditas, karena dari kas yang ada
di perusahaannlah dapat diketahui apakah perusahaan benar-benar memiliki
dana untuk memenuhi kewajiban-kewajiban termasuk juga untuk
membayarkan deviden. Hal ini disebabkan karena seringkali keuntungan yang
diperoleh perusahaan sudah diinvestasikan ke dalam aktiva-aktiva yang
dibutuhkan sehingga tingkat likuiditas perusahaan menjadi rendah.
Perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan tinggi tetapi yang
dalam keadaan ekspansi akan mempunyai likuiditas yang rendah karena
sebagian besar keuntungan digunakan untuk membiayai ekspansi. Perusahaan
yang menggunakan hutang akan mempunyai kewajiban membayar beban tetap
dari pinjaman tersebut sehingga akan mengurangi kemampuannya untuk
membayarkan deviden. Begitu pula bagi perusahaan besar yang sudah mapan
dan memiliki akses ke pasar modal akan lebih memungkinkan baginya untuk
membayar deviden yang tinggi karena mereka lebih mudah untuk memperoleh
sumbe rdana dari luar.
Pendapat sebagian para ahli menyebutkan bahwa laporan arus kas
mempunyai hubungan dengan jumlah pembayaran deviden yang terjadi dalam
satu tahun setelah terbitnya laporan arus uang, dengan demikian dapat
dikatakan, bahwa laporan arus kas bermanfaat bagi pemegang saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Sularso (2003) tentang pengaruh pengumuman
dividen terhadap perubahan harga saham (return) sebelum dan sesudah Ex-
Dividend Data di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat perubahan harga saham yang signifikan sebelum dan sesudah exdividend
date, hal ini dapat dilihat dari abnormal return sesudah ex-dividend
date lebih besar dari abnormal return sebelum ex-dividend date.
Penelitian lain yang berkaitan dengan perubahan dividen dampaknya
terhadap volume perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan
saham seperti yang dilakukan oleh Hidayah dan Triatmoko (2002) yang
menyimpulkan bahwa ada perbedaan reaksi volume perdagangan saham dan
variabilitas tingkat keuntungan saham antara kelompok dividen naik dan
kelompok dividen turun yang diduga disebabkan oleh perbedaan
pengharapan/kepercayaan investor maupun pasar, dan juga ditemukan bahwa
secara individual reaksi investor tidak menimbulkan rata-rata volume
perdagangan yang berbeda antara kelompok dividen naik dan kelompok
dividen turun.
Berdasarkan latar belakang dan hasil penelitian terdahulu, maka
dalam penelitian ini ditentukan judul skripsi: “ANALISIS PENGARUH
LABA DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DEVIDEN PADA
PERUSAHAAN YANG GO PUBLIC DI INDONESIA”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah laba perusahaan mempengaruhi kebijakan deviden pada
perusahaan go public di Indonesia?.
2. Apakah arus kas berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan
go public di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penelitian adalah:
1. Untuk menguji secara empiris pengaruh laba perusahaan terhadap
kebijakan deviden pada perusahaan go public di Indonesia.
2. Untuk menguji secara empiris pengaruh arus kas terhadap kebijakan
deviden pada perusahaan go public di Indonesia.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan dan latar belakang masalah di atas, maka manfaat
penelitian ini adalah:
1. Investor maupun calon investor
Diharapkan dapat membantu dalam pembuatan kebijakan di Pasar Modal
dan kebijakan di perusahaan emiten.
2. Emiten
Dapat mengetahui pentingnya pengumuman laporan keuangan perusahaan
sebagai ukuran kinerja perusahaan.
3. Bagi peneliti
Agar dapat mengembangkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah
dihubungkan dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga dapat
mengetahui sejauh mana peran teori di dalam praktek.
4. Bagi pembaca
Dapat digunakan sebagai bahan referensi dan dapat memberikan ilmu
pengetahuan maupun informasi kepada pihak-pihak yang hendak
melakukan penelitian selanjutnya.
E. Sistematika Penulisan Skripsi
Skripsi ini terbagi dalam lima bab dan tiap bab terbagi dalam sub babsub
bab dengan urutan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Penulis akan menguraikan latar belakang masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Penulis menguraikan mengenai teori yang melandasi permasalahan
skripsi. Menguraikan analisa teori yang diperoleh dari literatureliterature.
BAB III : METODA PENELITIAN
Berisi tentang alat analisis, teknik pengumpulan data dan sumber
data, teknik analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
Berisi tentang gambaran umum perusahaan, data yang diperoleh,
analisis data dan hasil analisis.
BAB V : PENUTUP
Bab ini merupakan kesimpulan dan saran dari uraian yang dikemukakan.

[+/-] Selengkapnya...

PERBEDAAN PERSEPSI ANTARA MAHASISWA SENIOR DAN JUNIOR MENGENAI PROFESI AKUNTAN (Studi Kasus Pada UNS dan UMS)


ISAURA, MIRA (2010)

ABSTRAKSI
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa S-1 Jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mahasiswa tingkat tingkat akhir (senior) dan mahasiswa awal (junior). Metode pengambilan sampel dengan menggunakan non probability sampling, meliputi metode convenience sampling dan purposive sampling. Metode Pengumpulan data menggunakan kuesioner yaitu menggunakan daftar pertanyaan kepada pihak- pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Hipotesa akan diuji dengan Uji t (t Test), Pengujian dilakukan dengan membandingkan mean antara 2 kelompok yang berbeda tersebut. Hasil pengujian hipotesis dengan statistik parametrik yaitu dengan Independent sample t-test dengan asumsi varians yang sama menunjukan Tidak ada perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan, hal ini ditunjukkan oleh nilai probabilitas sebesar 0,382 di atas 0,05. Berarti hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa “Terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi mahasiswa akuntansi senior dan junior mengenai profesi akuntan”, tidak dapat diterima.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Isu Good Corporate Governance di Indonesia saat ini masih hangat dibicarakan karena dianggap sebagai faktor yang akan dapat memulihkan kepercayaan investor terhadap Indonesia dan media menciptakan suasana bisnis yang sehat di Indonesia. Salah satu komponen dari Corporate Governance adalah adanya pelaporan keuangan yang memadai, sayangnya sistem pelaporan keuangan yang ada saat ini masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Rendahnya kualitas laporan keuangan dapat disebabkan kurangnya persepsi positif dari akuntan di Indonesia.
Dalam Kode Etik Akuntan Indonesia disebut bahwa tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawab dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Lebih lanjut disebutkan bahwa salah satu dari empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi seorang akuntan adalah profesionalisme. Prinsip Ketujuh Kode Etik Akuntan Indonesia menyebutkan bahwa prinsip Profesionalisme berarti setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Prinsip profesionalisme seorang akuntan akan terwujud dengan baik apabila akuntan tersebut merasa bahwa profesi akuntan penting dan memiliki tanggung jawab yang besar dalam masyarakat. Dengan demikian akuntan tersebut berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya dan menjaga nama baik profesinya. Karenaitulah, salah satu hal penting yang perlu ditekankan dalam pendidikan akuntansi adalah bagaimana membentuk nilai-nilai dan persepsi positif mahasiswa terhadap profesi.
Profesi akuntan di Indonesia pada masa yang akan datang menghadapi tantangan yang sangat berat. Untuk itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme profesi mutlak diperlukan. Profesionalisme suatu profesi mensyaratkan 3 hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi tersebut yaitu keahlian (skill), karakter (character), dan pengetahuan (knowledge).
Proses pembentukan profesionalisme profesi berawal dari pendidikan profesi, dalam hal ini pendidikan akuntansi di perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, bertujuan menyediakan sumber pengetahuan dan pengalaman belajar (knowledge and learning experience) bagi para mahasiswanya. Tujuan tersebut dicapai melalui bentuk kegiatan belajar mengajar yang disebut kuliah. Namun pendidikan akuntansi seharusnya tidak hanya menekankan pada kebutuhan keahlian (skill) dan pengetahuan (knowledge) yang bersifat teoritis, tetapi juga harus mampu mensosialisasikan kepada mahasiswanya hal-hal yang berhubungan dengan dunia praktik dan lingkungan kerja profesi akuntansi.
Di Indonesia, proses pendidikan dan pengajaran akuntansi dipandang belum mampu menghasilkan lulusan yang profesional, yang siap terjun ke dunia bisnis (Machfoedz,1997, dalam Diana 2006). Proses tersebut meliputi :
desain kurikulum, desain silabus, struktur pengajaran dan sistem pengajaran. Hal lain yang menyebabkan perlunya restrukturisasi pendidikan akuntansi adalah adanya indikasi bahwa para lulusan pendidikan akuntansi di perguruan tinggi meninggalkan bangku kuliah dengan persepsi yang kurang tepat mengenai lingkungan kerja profesi akuntan. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan yang diungkapkan Hanno dan Turner (1995) bahwa pendidikan akuntansi harus mampu memberikan “ a knowledge of business and their environtment ” (dalam Diana, 2006 ).
Nilai-nilai yang dianut oleh seorang akuntan tidak terlepas dari begaimana dia memandang profesi akuntan itu sendiri, apakah ia akan memandang profesi akuntan itu sendiri, apakah ia akan memandang penting profesi akuntan dan dengan sendirinya memandang penting pekerjaan yang dilakukannya. Tentunya nilai-nilai ini juga akan dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya individual, seperti karakteristik sosial dan pengalaman masa lalunya. Walaupun demikian, pada saat mahasiswa tersebut memilih jalur karirnya untuk menjadi seorang akuntan, mahasiswa tersebut telah memiliki pandangan mengenai akuntan sebagai sebuah profesi
Penelitian ini seperti halnya penelitian Fitriyani dan Yulianti (2007). Perbedaanya adalah pada penelitian ini hanya meneliti perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior pada program S1 reguler, sedangkan penelitian Fitriyani dan Yulianti (2007) meneliti perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior pada program S1 reguler, S1 ekstensi dan D3.
Penelitian ini dilakukan untuk meneliti persepsi antara mahasiswa senior dan junior terhadap profesi akuntan pada mahasiswa akuntansi di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mahasiswa akuntansi di Universitas Sebelas Maret. Berdasarkan uraian tersebut diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior dan Junior Mengenai Profesi Akuntan”.
B. Perumusan Masalah
Perumusan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
1. Kalangan akademik
Dapat dijadikan dasar penyusunan kurikulum akuntansi.
2. Ikatan Akuntan Indonesia
Sebagai dasar menentukan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme akuntan Indonesia.
E. Sistematika Penyusunan Skripsi
Untuk memperoleh gambaran singkat dalam memudahkan pemahaman atas skripsi ini, perlu dijelaskan sistematika penulisan. Berikut ini penulis akan menguraikan secara garis besar penyusunan skripsi dalam perumusannya dituangkan dalam lima bab dengan tahap-tahap sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini memuat uraian mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan teori-teori yang menjadi dasar analisis penelitian, meliputi: Pengertian Persepsi, Organisasi Profesi Akuntan, Bidang-bidang Akuntan, Jasa- jasa Akuntan Publik, Pendidikan Profesi Akuntansi di Indonesia, Tanggungjawab Profesi Akuntansi dalam Revolusi Informasi, Kode Etik Akuntan, Sumber Informasi tentang Lingkungan Kerja Akuntan Publik,
Tinjauan Penelitian Terdahulu dan Hipotesis Penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan tentang Ruang Lingkup Penelitian, Jenis dan Obyek Penelitian, Populasi dan Sampel, Kriteria Sampel, Metode Pengambilan Sampel, Metode Pegumpulan data, Variabel Penelitian, dan Metode Analisis Data.
BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN
Bab ini mencakup metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi tentang simpulan dari hasil penelitian yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, keterbatasan dan saran-saran yang dapat dijadikan masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan.

[+/-] Selengkapnya...

INTERAKSI INFORMASI ASIMETRI DAN GROUP COHESIVENESS DALAM HUBUNGAN PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN BUDGETARY SLACK (Study Empiris Pada PDAM Se-Eks ....


Ismawati, Rina (2010)

ABSTRAKSI .
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar partisipasi penganggaran berpengaruh terhadap budgetary slack serta seberapa besar informasi asimetri dan group cohesiveness sebagai variabel pemoderasi dapat memperkuat hubungan partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack. Penelitian ini mengambil sampel 30 responden di PDAM Se-Eks Karesidenan Surakarta yang dilakukan dengan teknik probability sampling yaitu dengan simple random sampling. Sedangkan pengumpulan data dengan mengandalkan pada instrumen angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) partisipasi penganggaran perpengaruh secara positif dan signifikan terhadap budgetary slack, dan (2) informasi asimetri dan group cohesiveness berpengaruh secara positif dan ;signifikan terhadap hubungan partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack dengan demikian berarti bahwa informasi asimetri dan group cohesiveness merupakan variabel pemoderasi. Sedangkan variabel pemoderasi yang paling dominan adalah informasi asimetri menunjukan rata-rata kontribusi sebesar 33.3%. Kata Kunci : Partisipasi penganggaran, Informasi asimetri, Group cohesiveness, Budgetary slack.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap organisasi baik sektor publik maupun sektor swasta memerlukan sistem penilaian kinerja yang menjamin terciptanya tujuan organisasi secara efisien dan efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi memerlukan informasi akuntansi terutama untuk menentukan indikator kinerja (performance indicator). Indikator kinerja tersebut dapat bersifat financial maupun non financial. Salah satu elemen penting dalam sistem pengendalian manajemen adalah anggaran. Anggaran merupakan alat bantu manajemen dalam mengalokasikan keterbatasan sumber daya dana yang dimiliki organisasi untuk mencapai tujuan. Adapun Supriyono dalam Riyadi (2002) menyatakan bahwa anggaran memiliki dua peranan penting yaitu sebagai perencanaan dan kriteria kinerja. Anggaran sebagai perencanaan berisi tentang rencana-rencana keuangan organisasi di masa yang akan datang, sedangkan anggaran sebagai kriteria kinerja berfungsi sebagai bagian dari proses pengendalian manajemen yang dapat dinyatakan secara formal.
Dalam waktu relatif singkat akuntansi sektor publik telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini terdapat perhatian yang lebih besar terhadap praktik akuntansi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah. Perusahaan milik Negara/Daerah dan berbagai organisasi publik lainnya dibanding dengan pada masa-masa sebelumnya. Terdapat tuntutan yang lebih
besar dari masyarakat untuk dilakukan transparansi dan akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga sektor publik. Tuntutan akan partisipasi anggaran yang sangat tinggi mengakibatkan diskursus partisipasi anggaran semakin marak dikalangan manager disemua perusahaan. Banyak praktisi akuntansi melakukan penelitian-penelitian untuk mengetahui fakta empiris terhadap diskursus ini, tetapi ketidak konsistenan hasil penelitian yang menyebabkan diskursus ini semakin menarik untuk dikaji. Organisasi sektor publik saat ini tengah menghadapi tekanan untuk lebih efisien, memperhitungkan biaya ekonomis dan biaya sosial, serta dampak negatif atas aktivitas yang dilakukan. Berbagai tuntutan tersebut menyebabkan akuntansi dapat dengan cepat diterima dan diakui sebagai ilmu yang dibutuhkan untuk mengelola urusan-urusan publik. Akuntansi sektor publik pada awalnya merupakan aktivitas yang terspesialisasi dari suatu profesi yang relatif kecil. Namun demikian. Saat ini akuntansi sektor publik sedang mengalami proses untuk menjadi displin ilmu yang lebih dibutuhkan dan substansial keberadaannya.
Partisipasi penganggaran adalah proses yang menggambarkan individu-individu terlibat dalam penyusunan anggaran dan mempunyai pengaruh terhadap target anggaran dan perlunya penghargaan atas pencapaian target anggaran tersebut (Browell, 1982 dalam fitri, 2004). Masalah yang sering muncul dari adanya keterlibatan manajer tingkat bawah/menengah dalam penyusunan anggaran adalah penciptaan budgetary slack. Budgetary slack biasanya dilakukan dengan meninggikan biaya atau menurunkan pendapatan dari yang seharusnya, supaya anggaran mudah dicapai (Merchant, 1981). Anthony dan Govindradjan (2001) menyatakan bahwa mekanisme anggaran akan mempengaruhi perilaku bawahan yaitu mereka akan merespon positif atau negatif tergantung pada penggunaan anggaran. Bawahan dan atasan akan berperilaku positif apabila tujuan pribadi bawahan dan atasan sesuai dengan tujuan organisasi. Selanjutnya bawahan akan berperilaku negatif apabila anggaran tidak diadministrasikan dengan baik, sehingga bawahan dapat menyimpang dari tujuan organisasi. Perilaku dysfungtional ini merupakan perilaku bawahan yang mempunyai konflik dengan tujuan organisasi (Hansen dan Mowen, 1997). Proses penganggaran dapat dilakukan dengan metode top down, bottom-up, dan partisipasi. Tetapi yang sering digunakan adalah pendekatan partisipasi atau bottom-up, karena memungkinkan terjadinya negoisasi diantara para Manajer untuk mencapai tujuan organisasi.
Akuntansi menemukan bahwa budgetary slack dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk diantaranya partisipasi bawahan dalam penyusunan anggaran (Yuwono,1999). Penelitian yang menguji hubungan partisipasi dengan budgetary slack masih menunjukkan hasil yang bertentangan. Young (1985) dan Merchant (1985) telah menguji secara empiris bahwa budgetary slack terjadi karena bawahan memberi informasi yang bias kepada atasan dengan cara melaporkan biaya yang lebih besar atau melaporkan pendapatan yang lebih rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karena adanya keinginan untuk menghindari resiko, bawahan yang terlibat dalam penyusunan anggaran cenderung untuk melakukan budgetary slack. Semakin tinggi resiko, bawahan yang berpartisipasi dalam penyusunan anggaran akan melakukan budgetary slack. Informasi dikatakan dalam kondisi asimetri jika satu pihak memiliki pengetahuan lebih dari pihak lain. Dalam konteks teori keagenan, asimetri informasi didefinisikan sebagai perbedaan informasi yang dimiliki oleh agen dan prinsipal sehingga prinsipal tidak dapat memonitor kemampuan atau potensi sesungguhnya yang dimiliki oleh agen (Kaplan & Atkinson, 1998). Sepengetahuan peneliti, sebagian besar penelitian mengenai pengaruh partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack dilakukan disektor swasta khususnya perusahaan manufaktur. Penelitian mengenai budgetary slack di sektor publik khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) belum banyak dilakukan. Padahal di organisasi sektor publik yang meliputi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, Orsospol, Yayasan, LSM, dan Koperasi (Mardiasmo, 2002) mempunyai karakteristik anggaran yang sangat berbeda baik sifat, penyusunan, maupun pelaporannya. Perbedaan dalam perencanaan dan persiapan anggaran sektor publik, serta adanya pendanaan dari pemerintah daerah cenderung menyebabkan ketergantungan keuangan yang dapat menimbulkan slack (Mardiasmo, 2001).
Penelitian ini meneliti mengenai budgetary slack di sektor publik khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dan penelitian ini terfokus
pada PDAM yang mempunyai karakteristik anggaran yang sangat berbeda. Maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul INTERAKSI INFORMASI ASIMETRI DAN GROUP COHESIVENESS DALAM HUBUNGAN PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN BUDGETARY SLACK PADA PDAM SE- EKS KARESIDENAN SURAKARTA.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan pada judul dan latar belakang diatas maka pokok masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah partisipasi penganggaran berpengaruh terhadap budgetary slack?.
2. Apakah informasi asimetri dan Group Cohesiveness sebagai variabel pemoderasi dapat memperkuat pengaruh partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menguji pengaruh partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack.
2. Menguji informasi asimetri Group Cohesiveness sebagai variabel pemoderasi dalam memperkuat pengaruh partisipasi penganggaran terhadap budgetary slack.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian yang dilakukan diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Peneliti dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan yang baik secara teori maupun praktek mengenai partisipasi penganggaran.
2. Pihak manajemen PDAM diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan partisipasi penganggaran sehingga tidak menimbulkan slack (senjangan anggaran).
E. Sistematika Penulisan
BAB I: PENDAHULUAN
Dalam bab ini peneliti melakukan pembahasan mengenai latar belakang masalah penelitian, perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini peneliti akan menjelaskan tentang teori partisipasi penganggaran, budgetary slack, informasi asimetri, group cohesiveness, dan disertakan juga hasil-hasil dari penelitian terdahulu, kerangka penelitian, dan perumusan hipotesis.
BAB III: METODE PENELITIAN
Dalam bab ini, akan dijelaskan mengenai metode penelitian dan metode analisis data.
BAB IV: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang gambaran umum perusahhaan secara garis besar, deskripsi responden atau karakteristik responden, pengujian instrumen penelitian, uji asumsi klasik, dan pengujian hipotesis.
BAB V: PENUTUP
Pada bab ini, dimuat kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran-saran.

[+/-] Selengkapnya...

SELF DEFENSE MECHANISM OF ERIN GRUWELL IN RICHARD LAGRAVENESE’ FREEDOM WRITERS MOVIE: A PSYCHOANALYTIC APPROACH


HABIBI , ABDUL HARIS (2010)

SUMMARY
ABDUL HARIS HABIBI A.320050157. SELF DEFENSE MECHANISM OF ERIN GRUWELL IN RICHARD LAGRAVENESE’ FREEDOM WRITERS MOVIE: PSYCHOANALYSIS APPROACH. RESEARCH PAPER. MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SURAKARTA. 2010.
The study is about the relation between environment and character building in In Richard Lagravenese’ Freedom Writers. The major problem in this research is how Self Defense Mechanism of Erin Gruwell is reflected In Richard Lagravenese’ Freedom Writers. The objective of the study is to describe the structural elements of the movie and to analyze major character’s behavior from psychoanalysis approach..
The writer conducts the research by using qualitative method that use the library research, while the data sources are literary data that are divided into two categories, primary and secondary data. The primary data are the movie entitled Freedom Writers itself and the secondary data include several references books of Psychoanalysis. The object of the research is the Self Defense Mechanism in Richard Lagravanese’s Freedom Writers.
Based on the defense mechanism psychoanalytic approach, defense can be happened if there is a threatening moments. So the defense of the film such as denial, displacement, intellectualization, projection, rationalization, reaction formation, regression and sublimation. On the Freedom Writers movie, it appears a lot of defenses because the major character is a new teacher who has high intelegancies, so she always talks rationally to other people. If there is a person who talks with no rationality, she dares to deny or even dares to fix it. The large Ego of one person who has better intelegancies makes her/him more specific in making decision and accepting other people opinion. So that is why Erin Gruwell has a lot of defense mechanism in denial. Beside that she also has a large defense of intellectualization because Erin Gruwell is a great teacher, but she rarely shows it in front of her students and her teacher friends. It is better if she does it directly than doing many talks. It is better for her to keep teaching the class rather than fighting.

CHAPTER I
INTRODUCTION
A. Background of the Study
In English literature, people use the word ‘literature’ in at least two different ways. Very often it simply means anything written, timetables, catalogues, text-books, travel brochures and so on. Literature is also a permanent writing, which expresses and communicates thoughts, feelings and attitudes towards life and the world.
Feelings, thought and attitude are part of psychology so in this case literary works which relate to with psychology is able to be analyzed with many kinds of psychology approach, the literary woks such as poem, film, novel, drama, songs etc. One of literary works is film which consists of dialogues, actors, producers and other film stuff on a wide screen cinema. The different of film from drama or novel is film uses a cinematography and casting. From the above literary works, the writer tries to focus on the film analysis. The film is “Freedom Writers” by Richard LaGravenese.
Richard LaGravenese the director of the Freedom Writers was born in Brooklyn, New York he is the son of a taxi driver. He graduated from New York University Tisch School of the Arts, Experimental Theatre Program. He currently lives in Manhattan, NY on Central Park West with his daughter Lily and wife Ann. (http://www. Huffingtonpost .com/richard-lagravenese/ emfreedomem-banned_b_110299.html).
The Freedom Writers is a 2007 drama film starring Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton and Patrick Dempsey. It is based on the book The Freedom Writers Diary by teacher Erin Gruwell who wrote the story based on Woodrow Wilson Classical High School in Long Beach, California. The title is a play on both the terms of "Freedom Riders", the black and white civil rights activists who tested the U.S. Supreme Court decision ordering the desegregation of interstate buses in 1961, and Freedom Fighters, as in somebody who fights for freedom. The idea for the film came from journalist Tracey Durning, who made a documentary about Erin Gruwell for the ABC News program Primetime Live. Durning served as co-executive producer of the film. (http://www.huffingtonpost.com/richard-lagravenese/emfreedomem-banned_b_110299.html).
The theory used by the writer is Freud theory named defense mechanism. Here the writer tries to focus on the defense of the major character when she faces the problems from her student and the teacher. Freud theory related with id, ego and Superego. Where Sigmund Freud's Theory is quite complex and although his writings on psychosexual development set the groundwork for how people personalities developed, it was only one of five parts to his overall theory of personality. He also believed that different driving forces develop during these stages which play an important role in how the people interact with the world.
The name of Freud theory is psychoanalysis where the structure of the personality in psychoanalytic theory is threefold. Freud divided it into the id,
the ego, and the superego. Only the ego was visible or on the surface, while the id and the superego remains below, but each has its own effects on the personality, nonetheless. Now the ego has a difficult time satisfying both the id and the superego, but it doesn't have to do so without help. The ego has some tools it can use in its job as the mediator; tools that help defend the ego. These are called Ego Defense Mechanisms or Defenses. When the ego has a difficult time making both the id and the superego happy, it will employ one or more of these defenses: denial, displacement, intellectualization, projection, rationalization, reaction formation, regression, repression and sublimation. (Oscar, D in http:// peace.saumag.edu/ faculty/Kardas/ Courses/GPWeiten/ C12Personality/EgoIDSuper.html).
From the background above, the defense mechanism of Freud, the freedom writers film and psychoanalysis, the writer tries to make an analysis entitle “Self Defense Mechanism of Erin Gruwell in Richard LaGravenese Freedom Writers: Psychoanalysis Approach” the film makes the researcher interested in Erin Gruwell experience in the way he makes a decision to gather her students and run from the problems from the student and the teacher.
B. Literature Review
Antok Setiadi laksana (2009) Sebelas Maret University, entitle “The anxiety of the major character “Erin Grewell in Richard Lagravenese’ movie Freedom Writers: Psychoanalysis Approach. The research is descriptive research which also explains about women’s side. But here, he explains
about the anxiety of Erin Gruwell as the major character. Firstly, he explains about the id, ego, and super ego of the major character, and then he explains about the realistic anxiety, neurotic anxiety, and moral anxiety. The result of the analysis is that he found 19 dialogues related to realistic anxiety, 12 dialogues related to moral anxiety and 19 dialogues related to neurotic anxiety. All of the anxieties views from women’s side.
From the two analyses above, the researcher tries to make a different analysis. Here the researcher focuses the analysis on the struggle based on defense mechanism of Freudm, Psychoanalysis approach. The title of the study is “Self Defense Mechanism of Erin Gruwell in Richard LaGravenese Freedom Writers: Psychoanalysis Approach”
C. Problem Statement
The main problem of this research will be, “How is the defense mechanism used by Erin Gruwell in keeping her opinion in facing the problems from her students and the teacher reflected in Freedom Writers?
D. Limitation of the Study
To carry out the study, the researcher will limit the study; the researcher tries to focus on the problems of defense did by Erin Gruwell.
E. Object of the Study
Based on the above problem statement, the objectives of the study will be:
1. To analyze the structural elements of the movie
2. To discuss defense mechanism of Erin Gruwell viewed from psychoanalysis perspective.
F. Benefit of the Study
The benefits of this study are as follows:
1. Theoretical Benefit
To give information and knowledge to the reader, especially the literary study defense mechanism on Freedom Writers movie by Richard LaGravenese.
2. Practical Benefit
To get better understanding of the movie, in literary field as references to other researchers in analyzing the movie especially based on the Freud theory psychoanalysis approach.
G. Research Method
In analyzing the study, the writer will apply qualitative method:
1. Object of the Study
The object of the study will be the major character Erin Gruwell in Freedom Writers movie.
2. Type of the Data and the Data Source
The data will be classified into two categories, primary data and secondary data. The primary data will be taken from movie it self such as the movie and the script, while the secondary data are taken from the other data, which have relation with the underlying theory and other materials concern such as the hand book, and the internet.
3. Type of the Study
This study will belong to qualitative research, which refers to research based on qualitative data taken from the Freedom Writers movie directed by Richard LaGravenese.
4. Technique of the Data Collection
The method will be used by the researcher for collecting the data is library research, the techniques are as follows:
a. Watching the movie several times, until the writer gets an adequate information or data to be analyzed then read the script to adjust it with the movie.
b. Reading some other resources related to the movie.
c. Taking notes for the important parts both in primary and secondary sources in data book or note book or by using computer, save the data on the disc.
d. Classifying the data into categories and develop them into a good unit.
5. Technique of the Data Analysis
In this thesis the technique that will be used to analyze the data is descriptive analysis technique that is the method when analyze the status of human’s group, object, and one set of condition in one think or one event at the present (Nazir, 1983: 63). The writer will describe the structural elements of the movie with psychoanalysis of literature. The collected data will be interpreted and analyzed in detail through psychoanalysis of literature in this case by showing the defense of Erin Gruwell and the influence if it in Freedom Writers movie: Psychoanalysis Perspective. Then drawing conclusion based on the analysis.
H. Research Paper Organization
The research paper will be divided into five chapters. Chapter I is Introduction, covering background of the study, literature review, problem statement, limitation of the study, objectives of the study, benefit of the study, research method and paper organization. Chapter II is underlying theory, covering nation of Psychoanalysis theory, basic principles of Psychoanalysis. Chapter III is structural analysis, which includes the character and characterization, plot, setting, point of view, theme and cinematography. Chapter IV is Psychoanalysis analysis of the movie, it presents the application of underlying theory in analyzing the problem consists of structure of personality and defense mechanism. Chapter V is
presents conclusion and suggestion for this research paper also the synopsis of the story.

[+/-] Selengkapnya...

PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA


HANANIK , HANANIK (2010)

ABSTRAKSI
Hananik, 2010. PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP
RETURN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Return merupakan indikator untuk meningkatkan kemakmuran (wealth)
bagi para pemegang saham atau investor. Keuntungan atau pengembalian (return)
atas investasi yang ditanamkan besarnya berbanding lurus dengan risiko yang
diperoleh. Untuk mengestimasi tingkat return yang diberikan perusahaan kepada
investor, penelitian ini menggunakan analisis rasio modal saham. Adapun rasio
modal saham yang digunakan adalah ROE (return on equity), PER (price earning
ratio), BVPS (book value per share), dan PTBV (price to book value).
Tujuan penelitian adalah untuk menguji secara empiris pengaruh rasio
modal saham terhadap return saham..
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 27 perusahaan.
Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah menggunakan metode purposive
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Analisis
data yang digunakan adalah analisis regresi berganda didukung uji t, uji F, dan uji
Adjusted-R2.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ROE berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap return saham, PER berpengaruh positif signifikan terhadap
return saham, BVPS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham, dan
PTBV berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap return saham..

Kata Kunci: rasio modal saham, return saham.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pasar modal (capital market) adalah suatu pengertian abstrak yang
mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang kepentingannya
saling mengisi, yaitu calon pemodal (investor) di satu pihak dan emiten yang
memerlukan dana jangka panjang di lain pihak, atau dengan kata lain adalah tempat
(dalam artian abstrak) bertemunya penawaran dan permintaan dana jangka menengah
atau jangka panjang (Budiarto dan Baridwan dalam Ikhawati, 2008). Dana jangka
panjang adalah aset keuangan yang beredar lebih dari satu tahun, seperti saham dan
obligasi perusahaan.
Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena
pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi
keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena, pasar modal
menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu
pihak yang membeli saham karena kelebihan dana (investor) dan pihak yang
mengeluarkan saham karena memerlukan dana (issuer) untuk kelangsungan hidup
perusahaannya. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan karena pasar modal
memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi
pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Pasar modal merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan untuk
memperoleh dana selain bank. Ini berarti pasar modal memiliki peran penting bagi
perusahaan dalam mencapai tujuannya, yaitu dalam alokasi dana masyarakat.
Alokasi dana yang produktif terjadi ketika individu yang mempunyai kelebihan dana
(lender) dapat meminjamkan ke individu lain yang lebih produktif membutuhkan
dana (borrower). Pasar modal dapat memberikan likuiditas yang tinggi kepada
lender dan borrower sehingga memperlancar upaya pencapaian tujuan masingmasing
pihak. Sebagai sarana mobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke
berbagai sektor yang melakukan investasi, pasar modal mampu menyediakan
informasi yang dapat diandalkan. Hal ini dikarenakan para pemilik dana (investor)
membutuhkan perasaan aman dalam menyalurkan dananya melalui pasar modal.
Perasaan aman ini di antaranya diperoleh dengan mendapatkan informasi yang jelas,
wajar, dan tepat waktu untuk digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan
investasi. Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan yang diterbitkan
perusahaan.
Laporan keuangan merupakan sarana yang penting bagi investor untuk
mengetahui perkembangan perusahaan secara periodik. Semakin cepat emiten
menerbitkan laporan keuangan secara periodik, baik sesudah diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik (audited financial statements) ataupun belum diaudit (anaudited
financial statements), semakin berguna bagi investor. Bentuk dan isi laporan
keungan disesuaikan dengan ketentuan yang diatur oleh BAPEPAM dan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan. Laporan keuangan sebaiknya diterbitkan
empat kali setahun, tidak hanya dua kali dalam satu tahun. Penerbitannya harus
dilakukan secara tepat waktu agar investor tidak terlambat dalam mengambil
keputusan beli atau jual saham setelah menganalisis laporan keuangan. Penerbitan
laporan keuangan yang terlambat akan sangat merugikan investor karena mereka
kehilangan kesempatan untuk mengambil keuntungan atau menghindari kerugian.
Laporan keuangan yang diterbitkan dalam waktu satu sampai tiga bulan setelah
tanggal laporan keuangan masih efektif bagi investor. Penerbitan laporan keuangan
setelah tiga bulan sudah dianggap basi untuk pengambilan keputusan jangka pendek,
tetapi mungkin masih berguna untuk keputusan jangka panjang (Samsul, 2006: 128).
Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor
dalam mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan tersebut menjadi
optimal bagi investor apabila investor tersebut dapat menganalisis lebih lanjut
melalui analisis laporan keuangan. Horigan dalam penelitian Wijaya (2008)
mengatakan bahwa rasio keuangan berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan
perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan perusahaan saat ini dan masa
mendatang, serta berbagai pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan
masa mendatang. Salah satu teknik yang digunakan untuk melaporkan keadaan
perusahaan adalah rasio modal saham.
Penelitian mengenai pengaruh rasio modal saham terhadap return saham
telah banyak dilakukan. Wijaya (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
secara parsial variabel ROE (return on equity), PER (price earning ratio), BVPS
(book value per share), dan PTBV (price to book value) tidak mempunyai pengaruh
secara signifikan dan positif terhadap return (tingkat pengembalian saham). Taufik
(2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa EVA (economics value added), ROE
dan ROA (return on asset) mempengaruhi stock return, namun dominasinya tidak
terlalu besar.
Budi dan Basuki (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa PER
mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham baik pada
periode bullish maupun pada periode bearish IHSG. PTBV mempunyai pengaruh
negatif signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada
periode bearish IHSG. Debt to Total Equity (DTE) mempunyai pengaruh negatif
tetapi tidak signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada
periode bearish IHSG. ROE mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap return
saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish IHSG.
Prayitno (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa PER mempunyai
pengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham, PTBV berpengaruh positif
signifikan terhadap return saham, ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap return
saham. Trisnawati dan sholikhah (2004) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
ROA, ROE , ROS (return on sales) dan EVA tidak menunjukkan adanya pengaruh
yang signifikan terhadap return pemegang saham.
Sasongko dan Wulandari (2006) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
EPS berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan ROA, ROE, ROS, BEP (Basic
Earning Power), dan EVA tidak berpengaruh terhadap harga saham.
Penelitian ini mengacu pada penelitian Wijaya (2008). Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada jenis perusahaan dan periode
pengamatan. Penelitian ini menggunakan tahun 2003 sampai dengan 2007 sebagai
periode pengamatan dan perusahaan manufaktur sebagai objek penelitian.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka dalam
penelitian ini penulis mengambil judul “Pengaruh Rasio Modal Saham Terhadap
Return Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI.”
B. Perumusan Masalah
Untuk memberikan arahan penelitian dan analisis data, maka perlu adanya
perumusan masalah yang jelas. Berdasarkan latar belakang tersebut perumusan
masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah apakah variabel ROE, PER,
BVPS, dan PTBV berpengaruh terhadap return saham?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah untuk
menguji secara empiris pengaruh variabel ROE, PER, BVPS, dan PTBV terhadap
return saham.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak yang
berkepentingan, yaitu sebagai berikut:
1. Memberikan bukti empiris bagi para akademisi dan para investor maupun calon
investor mengenai pengaruh variabel ROE, PER, BVPS, dan PTBV terhadap
return saham.
2. Sarana bagi penulis untuk menerapkan teori yang diperoleh selama kuliah ke
dalam praktik yang sesungguhnya.
3. Sebagai bahan referensi bagi peniliti yang akan melakukan penelitian di bidang
pasar modal.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini dibagi dalam beberapa bab, yaitu
sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan Pustaka
Berisi tentang landasan teori yang dipakai dalam penelitian dan
berhubungan erat dengan masalah yang dibahas.
Bab III : Metode Penelitian
Menguraikan tentang ruang lingkup objek penelitian meliputi populasi,
sampel, dan metode pangambilan sampel, data, dan sumber data, definisi
dan operasional variabel, serta metode analisis data.
Bab IV : Analisis Data dan Pembahasan
Memuat mengenai pelaksanaan dan hasil penelitian tentang gambaran
umum subjek penelitian, analisis data dan pembahasan.
Bab V : Penutup
Pada bab ini berisi simpulan, keterbatasan penelitian dan saran-saran
yang perlu untuk disampaikan.

[+/-] Selengkapnya...

Friday, April 15, 2011

ANALISIS PENGARUH STOCK SPLIT TERHADAP LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN SAHAM.


Hastuti , Endri (2010)
ABSTRAKSI
Stock split merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh emiten untuk
menaikkan jumlah saham yang beredar. Stock split menjadi perdebatan bagi teori
keuangan, karena ketidak konsistenan antara teori dan prakteknya. Secara teori,
stock split tidak akan menambah nilai perusahaan secara ekonomis. Sementara
dalam prakteknya, beberapa penelitian empiris menunjukkan bahwa pasar
cenderung bereaksi terhadap pengumuman stock split. Penelitian ini bertujuan
untuk mencari bukti empiris perbedaan likuiditas saham dan abnormal return
saham sebelum dan sesudah pengumuman stock split.
Penelitian ini adalah event study atau studi peristiwa empiris yang
menggunakan data-data sekunder dari Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Sampel yang diambil sebanyak 15 perusahaan yang mengeluarkan pengumuman
stock split pada periode 2004-2007. Pemilihan sampel menggunakan teknik
purposive sampling. Data yang dibutuhkan adalah volume saham yang
diperdagangkan, jumlah saham yang beredar, harga saham harian, dan Indeks
Harga Saham Gabungan. Data tersebut digunakan untuk menghitung Trading
Volume Activity (TVA) dan Abnormal Return (AR). Data yang diperoleh
kemudian diuji dengan uji beda rata-rata dua sampel berhubungan (paired sample
t-test) karena sebaran data normal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Tidak terdapat perbedaan
trading volume activity antara sebelum dan sesudah pengumuman stock split.
Hasil uji t menunjukkan thitung (1,262) kurang dari ttabel (2,145). Nilai rata-rata
TVA sebelum pengumuman stock split (0,00182) hanya sedikit berbeda dari pada
rata-rata TVA sesudah pengumuman stock split (0,00140). (2) Terdapat perbedaan
abnormal return saham antara sebelum dan sesudah pengumuman stock split.
Hasil uji t yang menunjukkan thitung (2,653) lebih besar dari ttabel (2,145). Nilai
rata-rata abnormal return saham sesudah pengumuman stock split (–0,00681)
ternyata lebih rendah dari pada abnormal return saham sebelum pengumuman
stock split (0,00957).
Kata Kunci : stock split, trading volume activity, abnormal return

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pasar modal merupakan wahana investasi bagi masyarakat, termasuk
pemodal menengah dan kecil. Pada umumnya setiap perusahaan didirikan
bertujuan untuk memperoleh laba atas usaha yang dijalankan dan menjaga
kelangsungan hidup perusahaan. Kendala yang banyak dihadapi perusahaan
adalah terbatasnya jumlah modal atau dana yang digunakan untuk
mengembangkan usaha. Dalam pengambilan keputusan investasi, para
investor memerlukan informasi mengenai portofolio yang paling
menguntungkan dengan tingkat resiko tertentu. Informasi tersebut diharapkan
dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi, sehingga keputusan yang
diharapkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Taty Sariwulan, 2007).
Indah Kurniawati (2003) menyatakan Informasi memegang peranan
penting terhadap transaksi perdagangan di pasar modal. Para pelaku di pasar
modal sangat membutuhkan setiap informasi yang dapat mempengaruhi naik
turunnya harga surat berharga di pasar modal. Informasi berkaitan dengan
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor untuk memilih
portofolio investasi yang optimal. Ada berbagai informasi yang
dipublikasikan di pasar modal baik informasi yang mempengaruhi sebagian
perusahaan maupun memiliki pengaruh terhadap seluruh perusahaan yang
ada di pasar modal. Beberapa informasi yang terdapat di pasar modal
misalnya penggabungan usaha (merger), pengambilalihan (acquisition),
peleburan usaha (consolidation), pemecahan saham (stock splits), pembagian
deviden saham (stock deviden ), dan lain-lain.
Menurut Brigham dan Gapenski (1994) dalam Beni Suhendra
(2003), Stock split merupakan fenomena yang masih menjadi teka-teki di
bidang ekonomi. Sebenarnya stock split tidak menambah nilai ekonomis bagi
perusahaan atau tidak secara langsung mempengaruhi cash flow perusahaan.
Akan tetapi masih saja dilakukan oleh perusahaan-perusahaan emiten.
Stock split merupakan salah satu upaya yang ditempuh emiten agar
sahamnya likuid di bursa. Misalnya perusahaan A memiliki 1.000 lembar
saham biasa yang beredar dengan nilai nominal Rp 1.000,00 kemudian
perusahaan melakukan stock split dengan mengubah harga satu lembar saham
menjadi Rp 500,00 sehingga jumlah saham yang beredar menjadi 2000
lembar. Nilai saham yang beredar Rp 1.000.000,00 baik sebelum maupun
sesudah stock split.
Sebagian besar manajer perusahaan yang melakukan stock split
percaya bahwa stock split akan mengakibatkan harga saham pada kisaran
perdagangan yang optimal. Sri Fatmawati (2008) menyatakan bagi sebagian
pihak khususnya emiten, pemecahan saham diyakini dapat memberikan
manfaat bagi mereka. Kondisi ini mengakibatkan saham menjadi lebih likuid
untuk diperdagangkan dan mengubah para investor odd lot menjadi investor
round lot.
Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999) menyatakan salah satu faktor
yang mendorong perusahaan melakukan stock split atau pemecahan saham
adalah adanya harga saham yang dinilai terlalu tinggi sehingga akan
mengurangi kemampuan para investor untuk membelinya. Stock split
merupakan perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah
saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecah (split factors). Stock
split akan mengakibatkan jumlah lembar saham yang beredar bertambah
banyak tanpa melalui transaksi jual beli dan tanpa mengubah besarnya
modal.
Peristiwa stock split menimbulkan reaksi beragam di pasar modal.
Grinblatt, Masulis, dan Titman (1984) dalam Indah Kurniawati (2003),
berpendapat bahwa pengumuman stock split di pasar merupakan sinyal
yang positif terhadap aliran kas perusahaan di masa yang akan datang.
Sinyal positif dari pengumuman stock split menginterpretasikan bahwa
manajer perusahaan akan menyampaikan prospek yang baik sehingga
dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan investor, selain itu stock split
juga menunjukkan sinyal yang valid karena tidak semua perusahaan dapat
melakukannya. Hanya perusahaan yang memiliki kinerja yang baik yang
dapat melakukan stock split, karena perusahaan harus menanggung semua
biaya yang ditimbulkan oleh stock split tersebut. Kebalikannya dengan
perusahaan yang tidak memiliki kinerja kurang bagus dan tidak memiliki
prospek yang baik di masa depan, tidak akan mampu menanggung biaya
transaksi yang harus dikeluarkan pada saat melakukan stock split.
Abdul Halim (2005 : 97) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang
perlu diketahui investor atau pemegang saham sehubungan dengan
pemecahan saham yaitu :
1. Rasio pemecahan saham, yaitu perbandingan jumlah saham baru
terhadap saham lama. Misalnya rasio 2 untuk 1, artinya 2 saham baru
ditukar dengan 1 saham lama.
2. Tanggal terakhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama di
bursa.
3. Tanggal dimulainya perdagangan saham dengan nilai nominal baru di
bursa.
4. Tanggal terakhir dilakukannya penyelesaian transaksi dengan nilai
nominal lama.
5. Tanggal dimulainya penyelesaian transaksi dengan nilai nominal baru
dan distribusi saham dengan nominal baru kedalam rekening efek
perusahaan efek.
Penelitian mengenai stock split telah banyak dilakukan oleh banyak
peneliti, seperti Fama et.al (1969) dalam Ewijaya dan Nur Indriantoro
(1999), melakukan pengujian yang didasarkan atas hipotesis bahwa
pemecahan saham yang diikuti oleh peningkatan dividen ditafsirkan pasar
sebagai predictor peningkatan dividen. Perubahan dividen dapat menjadikan
informasi tentang keyakinan manajemen terhadap laba di masa yang akan
datang. Hasil yang ditunjukkannya yaitu harga saham meningkat pada
periode menjelang diumumkannya pemecahan saham.
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
jangka pendek. Menurut Sri Fatmawati (2008) yang dimaksud dengan
Likuiditas saham adalah ukuran jumlah transaksi suatu saham tertentu
diukur dengan aktivitas volume perdagangan saham di pasar modal pada
periode tertentu. Tetapi likuiditas dalam penelitian disini diartikan
seberapa cepat asset dapat dikonversi menjadi uang kas. Asset yang
dimaksud adalah saham perusahaan yang diperjualbelikan. Likuiditas
saham dapat dilihat dari tingkat perdagangan saham, yaitu semakin banyak
saham yang yang terjual maka jumlah pemegang saham akan semakin
bertambah. Terdapat banyak penelitian yang berkaitan dengan likuiditas
saham, seperti yang dikutip oleh Taty Sariwulan (2007), penelitian yang
dilakukan oleh Copeland (1979) memperoleh bukti bahwa likuiditas
saham menurun setelah stock split dengan masing-masing menggunakan
volume perdagangan saham dan bid-ask spread. Bertolak belakang dengan
hasil penelitian yang menyatakan bahwa likuiditas saham menurun setelah
stock split, penelitian yang dilakukan oleh Lamoureux dan Poon (1987)
memperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan likuiditas saham setelah stock
split. Hal tersebut disebabkan karena dengan menurunnya harga, volatilitas
harga saham menjadi bertambah besar sehingga menarik investor untuk
memperbanyak jumlah saham yang dipegang.
Indah Kurniawati (2003) dalam penelitiannya mengenai analisis
kandungan informasi stock split dan likuiditas saham, dimana reaksi pasar
diukur dengan abnormal return sedangkan likuiditas saham diukur dengan
volume perdagangan dan bid ask spread. Hasil penelitian ini menunjukkan
hanya beta dan abnormal return saja yang memiliki perbedaan yang
signifikan, sedangkan volume perdagangan dan bid ask spread meskipun
berbeda tetapi tidak signifikan.
Sri Dwi Ari Ambarwati dan Damas (2007) dalam penelitiannya
mengenai analisis dampak stock split terhadap likuiditas dan return saham
di Bursa Efek Jakarta, likuiditas saham diukur dengan trading volume
activity sedangkan return saham diukur dengan abnormal return. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa stock split atau pemecahan saham
mengakibatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap
likuiditas saham dan return saham di seputar tanggal sebelum dan sesudah
pengumuman stock split.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Indah
Kurniawati (2003) serta Sri Dwi Ari Ambarwati dan Damas (2007)
tentang dampak stock split terhadap likuiditas dan return saham.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada
perusahaan yang diteliti dan periode pengamatan. Penelitian ini akan
meneliti perusahaan manufaktur pada periode pengamatan dari tahun
2004-2007, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan seluruh
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada periode pengamatan
sebelum 2005.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis
mengambil judul “ ANALISIS PENGARUH STOCK SPLIT
TERHADAP LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN SAHAM (Studi
Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakangyang telah dijelaskan sebelumnya, maka pokok
masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah terdapat perbedaan trading volume activity antara sebelum dan
sesudah stock split?
2. Apakah terdapat perbedaan abnormal return saham antara sebelum dan
sesudah pengumuman stock split?
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi penelitian ini hanya pada
peristiwa pengumuman pemecahan saham terhadap likuiditas saham dan
return saham yang dipublikasikan oleh perusahaan. Fokus penelitian ini
adalah saham- saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2007.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis trading volume activity antara sebelum dan sesudah
pengumuman stock split.
2. Untuk menganalisis abnormal return saham antara sebelum dan sesudah
pengumuman stok split.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran dan
dasar pertimbangan dalam melakukan investasi saham.
2. Bagi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan mampu
menambah wacana bagi pengembangan ilmu dan penelitian di bidang
keuangan, khususnya peristiwa stock split di pasar modal.
3. Bagi Peneliti
Studi ini diharapkan mampu menambah wawasan tentang pasar
modal dan mampu meningkatkan pemahaman tentang pengaruh stock split
terhadap likuiditas saham dan return saham.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Penyusunan skripsi ini terdiri dari lima bab dengan urutan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Merupakan landasan teori yang berhubungan dengan pokok
masalah yang dibahas yang berisi pengertian pasar modal, peran
informasi dalam pasar modal, pengertian saham, pengertian
pemecahan saham (stock split), likuiditas saham, volume
perdagangan saham, return saham, pengaruh stock split terhadap
harga saham, pengaruh stock split terhadap likuiditas saham,
hubungan antara stock split dengan abnormal return, tinjauan
penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan metode penelitiannya yang digunakan
metodologi ini berisikan jenis penelitian, populasi, sampel,
teknik pengambilan sampel, data dan sumber data, metode
pengumpulan data, definisi operasional variabel dan metode analisis data.
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan data yang berhubungan dengan pengumpulan
data, pengolahan data dan hasil pengujian hipotesis serta pembahasannya.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian yang dibuat
berdasarkan hasil pembahasan, keterbatasan penelitian, dan saran

[+/-] Selengkapnya...

PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERBANKAN KONVENSIONAL DENGAN PERBANKAN SYARIAH


HERNAWATI , HERNAWATI (2010)

ABSTRAKSI
Salah satu kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia selaku otoritas monoter dalam rangka meningkatkan kinerja perbankan konvensional dan syariah , karena kinerja merupakan cerminan dan kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Oleh karena itu, penelitian ini membahas mengenai perbandingan kinerja keuangan perbankan konvensional dengan perbankan syariah antara periode 2002-2008.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil objek penelitian yakni bank konvensional dan bank umum syariah di Indonesia dan yang telah terdaftar dalam Laporan Publikasi Keuangan Bank Indonesia dengan pengaambilan sampel Bank Konvensional yaitu bank yang tidak membuka suatu unit usaha syariah dan bank umum syariah atau berdiri sendiri yaitu Bank Argoniaga, Bank Arta Graha Internasional, Bank Bumi Putra Indonesia dan Bank Central Asia dan Bank umum syariah yang diambil adalah bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, bank BRI Syariah dan Bank Bukopin Syariah.. Dalam menganalisis kinerja keuangna perbankan konvensional dan perbankan syaraih , penulis menggunakan rasio keuangan Capital, Asset, Earning, Rentabilitas dan Likuidity CAEL. Data diambil dari laporan keuangan tahunan bank. Pengukuran Capital, Asset, Earning/Rentabilitas dan Likuidity yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR, PPAP, NPL, ROA, ROE, BOPO, NIM, LDR.
Analisis data dimulai dengan pendeskripsian data, kemudian dilakukan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji menunjukkan semua rasio terdistribusi dengan normal dan tidak normal sehinga selanjutnya hipotesis diuji dengan uji Pried Sample Test untuk data berdistribusi normal yaitu rasio BOPO dan rasio NIM sedangkan uji Mann Whitney untuk data berdistribusi tidak normal yaitu rasio CAR, PPAP, NPL, ROA, ROE, dan LDR. Hasil yang diperoleh dari pengujian menunjukkan hasil yang berbeda-beda untuk setiap rasio yang diuji. Untuk rasio CAR, ROA, dan NIM terdapat perbedaan yang signifikan antara perbankan konvensional dengan perbankan syariah, untuk rasio PPAP, NPL, ROE, BOPO, dan NPL tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perbankan konvensional dengan perbankan syariah.
Kata Kunci: Kinerja Keuangan, Rasio CAEL, Bank Konvensional dan Bank Syariah uji Pried Sample Test dan uji Mann Whitney .

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Di Indonesia pembangunan ekonomi tetap merupakan sentral dari seluruh pembangunan yang diadakan pemerintah. Tujuan pembangunan secara umum adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan ekonomi memeberikan peran kepada pihak swasta yang lebih besar. Oleh karena itu keberadaan badan usaha, lembaga keuangan dan perbankan menjadi sangat strategis untuk mewujudkan cita-cita pembangunan itu (Hastuti dan Kussudyarsana, 2007).
Menurut Syamsudin, 1995 dalam Setyowati dan Hartono, 2008. Sektor perbankan merupakan jantung dalam sisitem perekonomian sebuah negara dan sebagai alat pelaksanaan kebijakan moneter pemerintah. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh kinerja yang dicapai perbankan itu sendiri dan bagaimana upaya manajemen perbankan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi pada lingkungannya baik nasional maupun global. Untuk mengetahui kondisi keuangan sebuah bank dalam keadaan baik dalam arti sehat atau dalam kesulitan keuangan, maka harus dilakukan penilaian terhadap kinerja bank tersebut. Untuk melakukan penilaian kinerja bank maka sangat diperlukan laporan keuangan bank, karena dengan laporan keuangan ini dapat dihitung rasio-rasio
keuangan perbankan untuk menilai keadaan keuangna bank masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya di masa depan.
Menurut UU No.10 Tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Jenis bank di Indonesia dibagi menjadi dua, berdasarkan pembayaran bunga ataupun bagi hasil (Chotimah, 2008):
a. Bank yang melakukan uasaha secara konvensional
b. Bank yang melakukan usaha secara syariah.
Bank mempunyai peranan yang strategis dalam perekonomian suatu negara. Sebagai lembaga intermediasi, bank berperan dalam memobilisasi dana masyarakat yang digunakan untuk membiayai kegiatan investasi serta memberikan fasilitas pelayanan dalam lalu lintas pembayaran. Selain menjalan kedua perencanan tersebut, bank juga berfungsi sebagai media dalam mentransmisikan kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, bank sangat tergantung pada sumber dana dari masyarakat. Oleh karena itu, kelangsungan hidup perbankan sangatlah ditentukan oleh kepercayaan masyarakat sehingga bank dikenal sebagai lembaga kepercayaan (Kusumawardani, dkk 2008).
Dunia perbankan di dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk kredit oleh bank-bank komersil, dalam prakteknya banyak yang kurang berhati-hati ataupun menyimpang dari
aturan-aturan yeng beralaku dalam dunia bisnis perbankan seperti tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking) dengan memberikan kredit tak terbatas pada nasabah satu grup dengan perbankan tersebut, sehingga merugikan para deposan dan investor serta berdampak pada perekonomian negara, yang diakibatkan kecenderungan meningkatkan
kredit bermasalah/macet (Faisol, 2007).
Dengan adanya kebijakan perbankan di Indonesia yang difokuskan pada langkah-langkah strategi untuk memperkokoh kondisi perbankan nasional sebagai kesinambungan program restrukturisasi perbankan, hal tersebut merupakan cita-cita semua pihak dan untuk mewujudkan terciptanya industri perbankan yang kuat (Saestu,Alina Widya dan Tjahjadi, Bambang, 2008).
Menurut Halkos dan Salamouris, 2004 dalam Putri, Vicky Rahma dan Lukviarman, Niki, 2008. Salah satu sumber utama indikator yang dijadiakan dasar penilaian adalah laporan keuangan dari bank yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan lembaga perbankan dapat dikalkulasikan sejumlah rasio keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi tingkat keuntunggan, memprediksi masa depan, dan untuk mengantisipasi kondisi di masa depan.
Dengan semakin ketatnya persaingan antar bank syariah maupun dengan bank konvensional, membuat bank syariah dituntut untuk memiliki kinerja yang bagus agar dapat bersaing dalam merebutkan pasar perbankan nasional di Indonesia. Selain itu Bank Indonesia (BI) juga semakin
memperketat dan pengawasan perbankan nasional. Karena Bank Indonesia (BI) tidak ingin mengulangi peristiwa di awal krisis ekonomi tahun 1997 dimana banyak bank yang dilikuidasi karena kinerja tidak sehat, yang pada akhirnya merugikan masyarakat. Salah satu penilaian kineraja yang dapat dilakukan adalah meliahat kinerja keuangan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank. Karena kinerja keuangan dapat menunjukkan kualitas bank melalui perhitungan rasio keuangannya. Untuk menghitung rasio keuangan dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan bank yang dipublikasikan secara berkala (Kusumo, 2008).
Kesehatan bank merupakan syarat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat, menjalankan kegiatan operasional perbankan serta menciptakan stabilitas moneter dan makroekonomi. Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERBANKAN KONVENSIONAL DENGAN PERBANKAN SYARIAH ”
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan pokok yang akan dilakukan pengujian dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana kinerja keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional untuk masing-masing rasio dengan menggunakan aspek capital, asset, earning/rentabiltit y, likuidity?
C. BATASAN MASALAH
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bank umum syariah yang diambil adalah bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, dan Bank BRI Syariah, Bank Bukopin Syariah merupakan Unit Uasaha Syariah yang dikonversi menjadi Bank Umum Syariah baru-baru saja ini. Bank umum konfensional yang dipilih merupakan bank yang akan dibandingkan dengan bank umum syariah dan unit usaha syariah. Bank Konfensional yang dipilih adalah bank yang tidak membuka suatu unit usaha syaruah dan bank umum syariah atau berdiri sendiri. Bank konvensional tersebut adalah Bank Argoniaga, Bank Arta Graha Internasional, Bank Bumi Putra Indonesia dan Bank Central Asia.
2. Informasi yang digunakan untuk mengukur kinerja perbankan adalah berdasarkan Laporan Publikasi Keuangan Bank antara periode 2002 sampai 2008. Data yang diambil adalah laporan tahunan yang dipublikasikan melalui internet.
3. Ukuran kinerja bank yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio keuangan bank meliputi Capital Adequacy Ratio (mewakili rasio permodalan), Non Performing Loan dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (mewakili rasio kualitas aktiva produktif), Return On Asset dan Return On Equity (mewakili rasio rentabilitas), Beban Operasional dibagi Pendapatan Operasional dan Net Interest Margin (mewakili rasio efisiensi), Loan to Deposit Ratio (mewakili rasio likuiditas).
D. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang hendak dicapai dalm penelitian ini antara lain :
Mengetahui perbandingan kinerja keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional untuk masing-masing rasio keuangan.
E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diperoleh bagi beberapa pihak dari penelitian menegenai perbandingan kinerja keuangan perbankan konvensional dengan perbankan syariah adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, adalah dengan melakukan penelitian ini maka penulis memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang bertambah mengenai dunia perbankan
2. Bagi Bank Syariah, adalah dapat dijadikan koreksi atas kelemahan dan kekurangan untuk meningkatakan kinerjanya
3. Bagi Bank Konvensional, adalah dapat menjadi pertimbangan bagi bank konvensional untuk membentuk suatu unit usaha bahkan menjadikannya atau mengkonversi menjadi bank syariah.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk mempermudah pemahaman dan penelaahan, maka penulisan ini dirancang dalam sistematika berikut :
BAB I PENDAHULUAN.
Dalam bab ini penulis membahas mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.
Pada bab ini akan membahas mengenai pengertian bank, fungsi bank, jenis bank, bank syariah, pengertian kinerja keuangan, rasio keuangan, kerangka pemikiran, hipotesis, penelitian terdahulu.
BAB III METODE PENELITIAN.
Bab ini akan di fokuskan mengenai jenis penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN.
Bab ini akan membahas tentang analisis data, deskripsi data, hasil analisis dan pembahasannya.
BAB V PENUTUP.
Dalam bab ini merupakan hasil akhir yang terdiri dari kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran-saran.

[+/-] Selengkapnya...

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus Pada Kim Brownies di Sukoharjo)


FITRIANTO , IHSANUDIN (2010)

ABSTRAKSI
Ihsanudin Fitrianto, 2010. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus Pada Kim Brownies di Sukoharjo). Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan mempengaruhi kinerja karyawan.
Metode penelitian dengan survey pada Kim Brownies dengan mengambil 59 karyawan sebagai sampel. Alat pengambilan data yang digunakan adalah kuesioner dengan menggunakan regresi linier berganda sebagai alat analisis data.
Dari hasil analisis uji F menunjukkan bahwa kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan secara bersama-sama dan signifikan mempengaruhi kinerja karyawan. Hasil analisis yang telah dilaksanakan menghasilkan Adjusted R2 sebesar 0,602 yang berarti menunjukkan bahwa sekitar 60,2% variasi dari kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh variasi kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan, sedangkan sisanya sekitar 39,8% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain di luar model. Hasil analisis uji t yang diperoleh, untuk kompensasi menunjukkan H1 diterima yang berarti kompensasi secara individual mempengaruhi kinerja karyawan. Untuk kepemimpinan menunjukkan H2 diterima yang berarti kepemimpinan secara individual mempengaruhi kinerja karyawan. Untuk ketidakpastian lingkungan menunjukkan H3 ditolak yang berarti ketidakpastian lingkungan secara individual tidak mempengaruhi kinerja karyawan.
Kata kunci: kompensasi, kepemimpinan, ketidakpastian lingkungan, kinerja karyawan.

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai salah satu unsur produksi merupakan faktor paling penting dan utama di dalam segala bentuk organisasi. Faktor penting disini sifatnya komplek sehingga perlu mendapatkan perhatian, penanganan, dan perlakuan khusus disamping faktor produksi yang lain.
Sumber daya manusia mempunyai peranan yang besar dalam suatu organisasi. Keberhasilan mencapai tujuan organisasi datang dari perilaku pegawainya sendiri oleh karena itu para karyawanlah yang membentuk struktur organisasi dan memanfaatkan teknologi. Lagi pula, para karyawanlah yang mengadakan tanggapan terhadap variasi dan takaran lingkungan.
Apabila peranan perilaku individu dalam organisasi diteliti lebih lanjut, tampak bahwa organisasi harus mempunyai dua prasyarat penting agar mampu memastikan keberhasilan akhir, yakni adanya sistem kepemimpinan yang kondusif dan besarnya kompensasi yang diberikan kepada anggota organisasi itu.
Kepemimpinan pada suatu organisasi yang melayani masyarakat luas dikembangkan melalui sistem kepegawaian yang mantap. Pengembangan karier yang berdasarkan prestasi kerja, kemampuan yang profesional, keahlian dan keterampilan serta kemantapan sikap mental aparat dapat di wujudkan melalui upaya pendidikan pelatihan, penugasan, bimbingan, dan konsultasi serta melalui
pengembangan motivasi, kode etik, dan disiplin kedinasan yang sehat, didukung oleh sistem pemberian penghargaan yang wajar.
Sementara bagi organisasi sendiri dalam usaha mencapai tujuan sangat membutuhkan peran serta manusia yang menjadi anggota organisasi itu. Kegiatan organisasi tidak akan berjalan tanpa adanya keterlibatan unsur manusia yang ada di dalamnya. sejalan dengan pentingnya sumber daya manusia dalam organisasi. Bahwa manusia merupakan unsur yang paling penting menentukan keberhasilan/kegagalan suatu organisasi dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya dan dalam rangka pencapaian tujuan sasaran organisasi.
Tercapainya tujuan organisasi tidak hanya tergantung pada peralatan modern, sarana dan prasarana yang lengkap saja, tetapi justru lebih tergantung pada manusia yang melaksanakan pekerjaannya. Dengan begitu diharapkan mampu memberikan hasil kerja yang baik atau mempunyai prestasi kerja yang tinggi yang dibutuhkan oleh organisasi secara keseluruhan yang merupakan kontribusi dari hasil kerja karyawannya.
Penelitian ini akan mengangkat dua isu penting dalam upaya peningkatan karyawan yaitu kompensasi dan kepemimpinan. Hal ini mengacu pada penelitian dari Lestari (2006). Akan tetapi berbeda dengan Lestari (2006) penelitian ini menambahkan satu segi yang juga penting yaitu ketidakpastian lingkungan, suatu
segi yang rupanya diabaikan oleh Lestari (2006) akan tetapi dianggap sebagai aspek penting dalam penelitian Wibisono (2007).
Perusahaan berada dalam suatu lingkungan yang terdiri dari lingkungan eksternal maupun lingkungan internal. Lingkungan eksternal perusahaan dipandang merupakan kondisi yang dinamis yang menciptakan kesempatan, ancaman, serta sumber daya dan informasi bagi perusahaan. Lingkungan eksternal perusahaan seringkali mengalami perubahan yang sulit untuk diramalkan perubahannya.
Perubahan pada lingkungan eksternal perusahaan merupakan ketidakpastian lingkungan yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan, Miliken dalam Darlis (2001) berpendapat bahwa ketidakpastian lingkungan adalah rasa ketidakmampuan individu untuk memprediksi lingkungan secara akurat. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat merupakan salah satu bentuk ketidakpastian lingkungan yang berdampak pada aktivitas perusahaan.
Kim Brownies merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan kue. Pada awalnya, perusahaan ini lebih berkonsentrasi pada kue brownies sebagai produk andalannya, tetapi pada perkembangannya, sebagai perusahaan yang peka terhadap permintaan pasar, maka Kim Brownies dalam jangka waktu ke depan tidak menutup kemungkinan juga akan memproduksi kue-kue jenis lain jika memang permintaannya tinggi. Sebagai salah satu perusahaan pangan, maka sudah selayaknya perusahaan memperhatikan karyawan agar tujuan organisasi bisa terwujud sehingga tercipta hubungan yg sinergis antar hubungan horisontal antar pegawai maupun hubungan vertikal bawahan dengan atasan.
Berdasarkan uraian, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus Pada Kim Brownies di Sukoharjo).”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka di rumuskan suatu permasalahan yaitu sebagai berikut :
Apakah kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan mempengaruhi kinerja karyawan ?
C. Pembatasan Masalah
Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah disebutkan, maka pembahasan analisis faktor–faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan dibatasi pada masalah kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah, tujuan penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan pada Kim Brownies di Sukoharjo adalah untuk mengetahui apakah kompensasi, kepemimpinan, dan ketidakpastian lingkungan mempengaruhi kinerja karyawan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa kontribusi sebagai Berikut :
1. Bagi Penulis
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sumber pengalaman dan studi banding antara teori dan praktek di perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menyusun strategi perbaikan kinerja karyawan
yang disesuaikan dengan keadaan perusahaan, serta mencari tahu faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
3. Bagi Pihak Lain
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan, terutama sebagai bahan acuan untuk penelitian sejenis.
F. Sistematika Penulisan
Penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skripsi yang dibagi dalam lima bab, yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisi uraian tentang teori-teori yang mendasari penelitian ini, yang meliputi pengertian kompensasi, kepemimpinan, ketidakpastian lingkungan, kinerja karyawan, penelitian terdahulu, kerangka teoritis, dan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini menguraikan tentang ruang lingkup penelitian, populasi dan sampel, sumber data, definisi operasional variabel, metode pengujian instrumen, dan teknik analisis data.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi gambaran umum perusahaan, gambaran umum responden,
deskripsi variabel, hasil analisis data, dan pembahasannya (penerapan metode penelitian pada bab III, pembandingan hasil penelitian dengan kriteria-kriteria yang ada, pembuktian hipotesis, serta jawaban atas pertanyaan yang telah disebutkan dalam perumusan masalah).
BAB V PENUTUP
Bab terakhir ini berisi simpulan dari serangkaian pembahasan, keterbatasan penelitian atau kendala-kendala dalam penelitian, serta saran-saran yang perlu untuk disampaikan, baik untuk perusahaan maupun bagi penelitian selanjutnya.

[+/-] Selengkapnya...

PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA (EARNINGS MANAGEMENT)


FIRDAUSI, ARI FITRIA (2010)

ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari mekanisme corporate governance terhadap manajemen laba ( earnings management ). Penerapan corporate governance diukur dengan menggunakan lima variabel ( kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan direksi, ukuran dewan komisaris dan komite audit). Penelitian ini menggunakan data empiris perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2005 sampai tahun 2007 dengan sampel 66 perusahaan. Karena adanya outliers sebanyak 17, maka jumlah data menjadi 49. Metode penelitian yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besaran manajemen laba (earnings management) adalah kepemilikan Institusional dan Ukuran dewan Komisaris. Dimana semakin besar proporsi kepemilikan Institusional dan Ukuran dewan komisaris maka manajer cenderung menurunkan laba. Variabel kepemilikan manajerial, ukuran dewan direksi dan komite audit tidak terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besaran manajemen laba. Kata Kunci: kepemilikan manajerial, kepemilikan institusonal, dewan direksi, dewan komisaris, komite audit, manajemen laba (Earnings Management)

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manajemen laba (earnings management) merupakan tindakan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan untuk mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan pihak tertentu, walaupun dalam jangka panjang (laba kumulatif) tidak terdapat perbedaan laba yang dapat diidentifikasikan sebagai suatu keuntungan Fisher dan Rosenzweig, (1995); Scott (1997); Surifah (1999) dalam Syaiful Iqbal (2007). Masalah manajemen laba merupakan masalah keagenan yang seringkali dipicu oleh adanya pemisahan peran atau perbedaan kepentingan antara pemilik (pemegang saham) dengan pengelola (manajemen) perusahaan. Lebih jauh lagi, manajemen sebagai pengelola perusahaan memiliki informasi tentang perusahaan lebih cepat, lebih banyak, dan lebih valid daripada pemegang saham (information asymmetry) sehingga memungkinkan manajemen melakukan praktik akuntansi dengan berorientasi pada angka laba, yang dapat menciptakan kesan (prestasi) tertentu.
Agency theory memberikan gambaran bahwa masalah manajemen laba dapat dieliminasi dengan pengawasan sendiri melalui good corporate governance. Bahwa praktik manajemen laba yang dilakukan oleh manajer dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring untuk menyelaraskan (alignment) ketidaksejajaran kepentingan pemilik dan manajemen, yaitu : pertama, dengan memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial ownership) (Jensen dan Meckling, 1976); kedua, dengan kepemilikan saham oleh investor institusional (Midiastuty dan Machfoed, 2003), dengan pertimbangan bahwa mereka dapat dianggap sebagai sophisticated investor yang tidak dengan mudah bisa dianggap "dibodohi" oleh tindakan manajer Bushee (1998) dalam Syaiful Iqbal (2007); dan ketiga, melalui peran monitoring yang dilakukan oleh dewan direksi (board of directors).
Cadbury Committee mendefinisikan corporate governance sebagai "suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi Tjager et al (2003) dalam Syaiuful Iqbal (2007)". Pengertian yang lebih luas mengklasifikasikan corporate governance ke dalam dua perspektif yaitu perspektif sempit dan perspektif luas. Dalam perspektif sempit, corporate governance didefinisikan sebagai mekanisme administratif yang mengatur hubungan – hubungan antara manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan kelompok – kelompok kepentingan (stokeholders) yang lain. Sedangkan dalam perspektif luas, corporate
governance didefinisikan dalam pengertian sejauh mana perusahaan telah dijalankan dengan cara yang terbuka dan jujur untuk mempertebal kepercayaan masyarakat luas terhadap mekanisme pasar, meningkatkan efisiensi dalam alokasi sumber daya langka baik dalam skala domestik maupun internasional, memperkuat struktur industri, dan akhirnya meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas. Bamhart dan Rosenstein (1998) dalam Midiastuty dan Machfoed (2003), mengemukakan mekanisme corporate governance meliputi mekanisme internal, seperti adanya struktur dewan direksi, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif, dan mekanisme eksternal seperti pasar untuk kontrol perusahaan, kepemilikan institusional, dan tingkat pendanaan dengan hutang (debt financing). Sedangkan menurut Veronica dan Bachtiar (2004) dalam Syaiful Iqbal (2007), beberapa mekanisme corporate governance antara lain diwujudkan dengan adanya dewan direksi, komite audit, kualitas audit, dan kepemilikan institusional.
Untuk lebih dapat mencapai good corporate governance, selain kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan dewan direksi, peranan komite audit juga diperlukan untuk lebih meningkatkan lagi kualitas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan sesuai dengan tugas – tugasnya. Hal ini seperti diungkap penelitian Wedari (2004) dalam Syaiful Iqbal (2007), yang menemukan bahwa keberadaan komite audit berpengaruh dengan arah negatif secara signifikan dengan aktivitas manajemen laba, sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan komite audit mampu mengurangi aktivitas manajemen laba. Penelitian empiris lainnya menemukan bahwa hasil yang beragam atas hubungan mekanisme – mekanisme corporate governance dengan manajemen laba. Hasil kelompok pertama menyebutkan terdapat hubungan signifikan antara mekanisme good corporate governance terhadap manajemen laba Warfield et al (1995); Gabrielsen, et al (1997) Wedari (2004); Rajgofal et al, (1999); Midiastuty dan Machfoedz (2003) dalam Syaiful Iqbal (2007). Kelompok berikutnya memperoleh hasil tidak terdapat kontribusi signifikan mekanisme good corporate governance terhadap manajemen laba (Veronica dan Bachtiar (2004); Wedari (2004); Widyaningsih (2001); dan Darmawati (2003) dalam Syaiful Iqbal (2007) Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengambil judul “PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA (EARNINGS MANAGEMENT)”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka masalah yang akan diuji lebih lanjut dalam penelitian ini yaitu : “Apakah mekanisme corporate governance yang meliputi kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, dewan direksi, dewan komisaris dan komite audit memiliki pengaruh terhadap praktik manajemen laba.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan: Untuk menganalisis pengaruh mekanisme corporate governance yang meliputi kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan direksi, dewan komisaris dan komite audit terhadap praktik manajemen laba.
D. Manfaat Penelitian
1. Dengan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan teori, terutama akuntansi keuangan mengenai agency theory dan corporate governance.
2. Untuk akademi hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan sebagai bahan perbandingan untuk penelitian – penelitian berikutnya yang terkait dengan corporate governance dan manajemen laba.
3. Bagi para pemakai laporan keuangan dan praktisi penyelenggara perusahaan dalam memahami corporate governance dan praktik manajemen laba sehingga dapat meningkatkan nilai dan pertumbuhan perusahaan.
E. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan Bab ini menjelaskan tentang hal – hal pokok yang berhubungan dengan penulisan skripsi, meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. BAB II Tinjauan Pustaka Bab ini membahas telaah literatur yang mendukung hipotesis dalam penelitian ini. Meliputi : Teori Keagenan, corporate governance, dan manajemen laba, serta perumusan Hipotesis. Bagian terakhir bab ini membahas tentang kerangka pemikiran. BAB III Metode Penelitian Bab ini menjelaskan metode – metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi, meliputi : rancangan penelitian, populasi dan prosedur penentuan sampel, jenis dan sumber data, definisi dan operasional variabel serta metode analisis. BAB IV Analisis Data
Bab ini membahas tentang analisis dan pembahasan, yang membahas hasil pengumpulan data, statistik deskriptif, pengujian asumsi klasik,pengujian hipotesis dan penjelasan dalam rangka menyusun kesimpulan BAB V Penutup Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, dan keterbatasan penelitian serta saran bagi penelitian selanjutnya.

[+/-] Selengkapnya...

KINERJA KEUANGAN PERBANKAN PASKA KEBIJAKAN OFFICE CHANNELING (Studi Kasus Pada Bank Permata dan Unit Usaha Syariahnya)


DYAN K , KARTIKA (2010)

ABSTRAKSI
Salah satu kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia selaku otoritas monoter
dalam rangka meningkatkan kinerja perbankan khususnya unit usaha syariah adalah
kebijakan mengenai penerapan sistem Office Channeling (OC) bagi bank-bank
konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS). Kebijakan ini mengijinkan
(UUS) untuk membuka layanan syariahnya di kantor-kantor cabang Bank
Konvensional induknya, setelah memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 8/3/2006.
Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian studi kasus dan mengambil
objek penelitian yakni Unit Usaha Syariah dari Bank Permata, Tbk yang merupakan
bank yang pertama kali mengawali penerapan kebijakan OC ini paling awal. Studi
kasus pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan kinerja keuangan yang
diukur dengan rasio CAMEL (Capital, Assets Quality, Management, Equity,
Likuidity) sebelum dan sesudah penerapan kebijakan Office Channeling untuk
melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah
penerapannya. Data diambil dari laporan keuangan triwulanan bank sebelum dan
sesudah kebijakan Office Channeling. Dalam penelitian ini, untuk aspek Capital tidak
dapat dianalisis karena ditemukan tidak adanya komponen modal dalam Laporan
Keuangan UUS, disebabkan karena bentuk hubungan UUS dengan bank
Konvensional berbentuk hubungan pusat dengan cabang.
Analisis data dimulai dengan pendeskripsian data, kemudian dilakukan uji
normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji menunjukkan
semua rasio terdistribusi dengan normal sehinga selanjutnya hipotesis diuji dengan
Paired Sample t-test. Hasil yang diperoleh dari pengujian menunjukkan hasil yang
berbeda-beda untuk setiap rasio yang diuji. Untuk aspek Asset Quality, Management,
dan Earning dengan proksi-proksinya menunjukkan tidak adanya peningkatan kinerja
secara signifikan sesudah Office Channeling, sedangkan pada aspek Liquidity dengan
proksi LDR menunjukkan tidak adanya peningkatan sesudah office channeling, tetapi
proksi CR menunjukkan adanya peningkatan kinerja secara signifikan sesudah office
channeling.
Kata Kunci: Kinerja Keuangan, Rasio CAMEL, Office Channeling.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sektor perbankan merupakan jantung dalam sistem perekonomian sebuah
Negara dan sebagai alat dalam pelaksanaan kebijakan moneter pemerintah. Untuk
mengetahui kondisi keuangan sebuah bank dalam keadaan baik dalam arti sehat
atau dalam keadaan kesulitan keuangan, maka harus dilakukan penilaian terhadap
kinerja bank tersebut. Untuk melakukan penilaian kinerja bank maka sangat
diperlukan laporan keuangan bank, karena laporan keuangan bank ini dapat
dihitung rasio-rasio keuangan perbankan untuk menilai keadaan keuangan bank di
masa lalu, saat ini dan kemungkinan di masa depan (Syamsudin, 2005 dalam
Arum Setyowati dan Hartono, 2008).
Deni Kusumawardani, dkk (2008) menyebutkan bahwa kinerja bank
merupakan syarat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat, menjalankan
kegiatan operasi perbankan (baik konvensional maupun syariah), serta
menciptakan stabilitas moneter dan makroekonomi. Semua itu terkait akan peranan
bank sebagai lembaga intermediasi yaitu memobilisasi dana masyarakat yang
digunakan untuk membiayai kegiatan investasi serta memberikan fasilitas
pelayanan dalam lalu lintas pembayaran.
Pengukuran kinerja bank pun berkonsentrasi pada tata cara penilaian
kesehatan bank di Indonesia yang didasarkan pada Peraturan Bank Indonesia
nomor 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
yang dilihat dari aspek-aspek: permodalan, kualitas aktiva produktif, rentabilitas,
likuiditas, dan sensitivitas terhadap resiko pasar dengan metode CAMEL (Capital,
Assets Quality, Manajemen, Earning and Liquidity) (Alina Widya S dan Bambang
Tjahjadi, 2008).
Dalam perkembangannya sejalan dengan langkah restrukturisasi
perbankan nasional, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kegiatan
usaha bank syariah melalui Undang-Undang No 10 Tahun 1998 sebagai
pengganti penyempurnaan Undang-Undang No 7 tahun 1992, yang memberikan
arahan bagi bank konvensional untuk membuka kantor cabang yang beroperasi
secara syariah (dual banking system) dalam bentuk unit usaha syariah atau
mengkonversikan diri menjadi bank syariah. Itulah salah satu kebijakan perbankan
di Indonesia sebagai kesinambungan program restrukturisasi perbankan untuk
melanjutkan upaya pemulihan fungsi intermediasi perbankan dan pemantapan
ketahanan kesehatan perbankan yang merupakan bagian dari kinerja perbankan
(Sri Yuliati, 2007).
Dalam cetak biru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menyebutkan
bahwa perkembangan perbankan unit usaha syariah dari perbankan konvensional
ataupun perbankan syariah sendiri telah mengalami pertumbuhan, baik dari sisi
pertumbuhan aset maupun pertumbuhan kelembagaan atau jaringan. Namun,
pertumbuhan diperbankan unit usaha syariah dari perbankan konvensional ataupun
perbankan syariah ini belum memadai bila dibandingkan dengan kebutuhan
masyarakat akan pelayanannya, salah satu hambatan ini adalah jaringan kantor.
Menurut Iswardono Sardjonopermono (1999), Bank Indonesia selaku
bank sentral memiliki tugas membimbing pelaksanaan kebijaksanaan keuangan
pemerintah dan mengkoordinir serta mengawasi seluruh perbankan di Indonesia.
Oleh karenanya, dalam rangka memberikan pelayanan yang maksimal kepada
masyarakat, khususnya masyarakat kecil maka perlu didukung dengan jaringan
kantor yang cukup.
Akhirnya diawal tahun 2006 Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan
Bank Indonesia No.8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006. Dengan adanya PBI ini,
Bank Konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah dapat mengembangkan
layanan syariah dijaringan kantor konvensionalnya menggunakan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang telah ada (Media BSM, 2006).
Pengaturan yang dapat memperluas jangkauan pelayanan jasa bank
syariah adalah penerapan konsep Office Channeling yaitu penggunaan kantor bank
umum konvensional dalam melayani transaksi-transaksi dengan prinsip syariah,
dengan syarat bank tersebut telah memiliki unit usaha syariah.
Oleh karenanya sejak tahun 2006 sudah ada usaha yang dilakukan oleh bank-bank
konvensional yang memiliki unit usaha syariah dengan membuka jaringan kantor
atau layanan syariah di kantor induk (bank konvensional) (Ade Candra Kusuma,2007).
Bank Indonesia dalam laporan perkembangan perbankan syariah tahun
2006 menyatakan kebijakan Office Channeling ini difokuskan pada upaya
pemberian ruang gerak kepada perbankan untuk menyediakan produk dan jasa
keuangan perbankan syariah, sekaligus meningkatkan akses masyarakat pada
produk dan jasa perbankan syariah. Dengan penerapan kebijakan Office
Channeling ini diharapkan bank lebih efisien dalam memperluas jaringan layanan
dan sekaligus mempercepat pertumbuhan volume usahanya. Dan dilihat dari sisi
kelembagaannya, sepanjang tahun 2006 jaringan kantor perbankan syariah
mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini ditandai dengan dioperasikannya
456 kantor cabang bank konvensional untuk memberikan layanan syariah (office
channeling), terutama sejak paro kedua 2006. Penyebaran jaringan kantor bank
syariah kini telah menjangkau masyarakat di lebih dari 70 kabupaten / kota
di 31 provinsi.
Winny (2006) menyatakan dalam penelitiannya bahwa dengan adanya
perluasan layanan melalui Office Channeling di 10 kantor bank DKI Jakarta mulai
pertengahan oktober lalu bertambah menjadi 20 kantor channel. Selain itu kinerja
keuangan perbankan dan unit usaha syariah dari Bank DKI Jakarta semakin meningkat.
Hairiennisa Rohaya (2008), juga menyatakan bahwa Kebijakan Office
Channeling memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kinerja
perbankan seperti:
1. Setelah diterapkan Kebijakan Office Channeling, Total Aset perbankan
khususnya syariah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun secara
signifikan.
2. Kinerja penghimpunan dana perbankan syariah mengalami peningkatan yang
tercermin dalam pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK
Ade Candra Kusuma (2007) menyebutkan bahwa kebijakan Office
Channeling memberikan dampak positif, antara lain:
1. Kebijakan Office Channeling oleh kantor cabang atau kantor di bawah kantor
cabang sebuah Bank Konvensional dalam melaksanakan layanan syariah atas
nama kantor cabang syariah pada bank konvensional yang sama dapat
melakukan ekspansi usaha secara luas tanpa harus membangun kantor cabang
atau kantor di bawah kantor cabang sendiri dengan biaya yang mahal
2. Melalui kebijakan Office Chaneling akan membuka peluang kerjasama yang
lebih luas baik antara sesama bank syariah maupun dengan bank-bank
konvensional.
Berdasarkan latar belakang diatas, mendorong penulis untuk
melakukan penelitian yang berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya
dengan mengganti variabel dan memfokuskan pada satu perusahaan perbankan.
Karena banyaknya penelitian tentang kinerja keuangan perbankan, maka
penulis ingin meneliti lebih lanjut bagaimana kinerja keuangan khususnya
setelah dikeluarkanya Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2006 pada
tanggal 30 Januari 2006 yaitu tentang pelayanan kantor bank yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah oleh bank
konvensional (Office Channeling), selanjutnya akan dituangkan dalam
penelitian ini dengan judul “Kinerja Keuangan Perbankan Paska Kebijakan
Office Channeling” (Studi Kasus Pada Bank Permata dan Unit Usaha Syariahnya)
B. Motivasi Penelitian
Motivasi penulis mengangkat judul penelitian ini adalah :
1. Karena penelitian-penelitian sebelumnya belum ada kepastian akan hasil-hasil
dari peneliti satu dengan peneliti yang lain. Belum ada ketidakpastian akan
penelitian tersebut karena ada yang menyatakan bahwa kinerja keuangan
sebelum dan sesudah kebijakan Office Channeling ada perbedaan tetapi
adapula yang mengatakan bahwa kebijakan Office Channeling tidak
memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan.
2. Karena penelitian-penelitian sebelumnya mayoritas hanya meneliti
pengembangan skala usaha perbankan pra dan paska kebijakan Office
Channeling.
3. Kinerja keuangan yang bagus dapat mendorong masyarakat untuk berinvestasi
di bank yang bersangkutan. Jika investasi masyarakat meningkat, maka
sumber dana bank yang digunakan untuk membiayai pembangunan juga akan
lancar. Sehingga kinerja bank merupakan syarat penting untuk menjaga
kepercayaan masyarakat.
C. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan suatu
permasalahan yaitu “Adakah perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah
diterapkannya kebijakan Office Channeling?”
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian ini adalah : “Untuk
membandingkan kinerja keuangan sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan
Office Channeling”
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi akademisi penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi temanteman
mahasiswa dan pihak-pihak lain yang akan menyusun skripsi atau
melakukan penelitian yang khususnya mengenai perbankan syariah.
2. Secara praktis hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan
bagi pengembangan bank syariah untuk lebih meningkatkan mutu serta
pelayanannya kepada masyarakat.
3. Bisa menjadi pertimbangan terhadap kebijakan yang akan diambil dengan
melihat pengaruh dari kebijakan office channeling.
F. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, motivasi
penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan tentang kinerja keuangan perbankan, office
channeling, hubungan kebijakan office channeling terhadap
kinerja keuangan perbankan, kerangka pemikiran, tinjauan
penelitian terdahulu, hipotesis.
BAB III Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan tentang jenis data, data dan sumber data,
obyek penelitian, dan teknik analisis data.
BAB IV Analisis Data dan Pembahasan
Bab ini berisi gambaran umum Bank Permata dan Unit Usaha
Syariahnya, hasil pengumpulan data, analisis data dan pembahasan.
BAB V Penutup
Bab ini berisi kesimpulan dari analisis yang diperoleh,
keterbatasan penelitian, dan saran penulis yang diharapan dapat
memberikan kontribusi positif bagi kemajuan perbankan
syariah.

[+/-] Selengkapnya...